Ahli Ibadah yang Su’ul Khatimah Karena Syahwat

Dikisahkan dahulu di jazirah Arab ada seorang Raja yang memiliki seorang puteri yang sangat cantik. Pada saat yang sama, hiduplah seorang yang terkenal alim dan ahli ibadah (abid) atau Kyai kalau di Jawa. Sang ahli ibadah tersebut menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah, mengajar kepada murid-muridnya di Pesantren miliknya, shalat, zikir dan mensucikan dirinya dari hal-hal yanbg dilarang Agama.

Kemudian Iblis mengumpulkan bala tentara setan dalam suatu majelis. Pimpinan Iblis tersebut menanyakan siapa diantara mereka yang dapat menyesatkan sang ahli ibadah tadi, menggagalkan taqarrub-nya kepada Allah dan menggelincirkannya dari jalan Allah.

Salah satu dari setan tersebut berkata :”Kau saja yang akan menggodak, karena aku telah berhasil memisahkan sepasang suami istri”.
“Ah itu sih bukan apa-apa, tanpa kamu pisahkan juga banyak suami istri yang bercerai”.
Setelah beberapa setan mengacungkan tangannya, tampilah salah satu setan yang mengajukan konsep penggodaan yang brilyan. Pimpinan Iblis-pun langsung menyetujui rancana dan konsep-nya.

Si setan-pun pergi mendatangi sang puteri Raja di Istana. Karena sang puteri Raja hidup dalam kemewahan Istana dan cenderung lupa kepada Allah, maka setan mudah masuk ke dalam dirinya. Hati sang puteri cantik tersebut digoncangkan hingga jiwanya sakit. Sang Raja bingung kemana ia harus mengobati puteri kesayangannya yang sakit jiwa itu.

Setan itupun menemui sang Raja dengan menyamar sebagai orang tua. Ia menasehati sang Raja agar mengantarkan putrinya kepada orang alim dan ahli ibadah tersebut. Katanya sang ahli ibadah itu dapat mengobati dan menyembuhkan orang sakit dengan do’a-doanya. Karena ke-dekatan(taqarrub)-nya kepada Allah, do’a-do’anya sangat maqbul. Sang Raja-pun akhirnya mengirim putri kesayangannya kepada sang ahli ibadah yang terkenal alim tersebut.

Sang ahli ibadah menerima sang puteri Raja tersebut dan memohonkan do’a kepada Allah, dan mustajab, sang puteri sembuh. Akhirnya sang puteri di bawa pulang ke istana. Di tengah perjalanan, setan datang lagi untuk menggoncangkan hati puteri itu, hingga sakitnya kambuh lagi. Lalu setan yang menyamar sebagai orang tua berkata pada sang Raja, “Sebaiknya puteri anda tidak dibawa pulang, biarkan saja ia mesantren di pondok sang ahli ibadah itu.” Maka, sang puteri tinggal di pesantren sang ahli Ibadah dan otomatis setiap harinya ia dekat sang ahli ibadah.

Sang ahli ibadah itu sangat menjaga dirinya. Ia sangat megkuatirkan syahwatnya, terlebih karena didekatnya ada puteri raja yang sangat cantik. Ia bangunkan pondokan tersendiri untuk gadis itu. Setiap hari ia mengantarkan makanan dan minuman. IA menyimpannya di luar pintu. Setan berbisik, mengapa kamu simpan makanan itu di luar? Bagaimana kalau dimakan kucing? Mestinya kamu menyimpannya di dalam agar terpelihara.

Setelah dipikir-pikir, sang ahli ibadah itu membenarkan bisikan setan. Kini setiap kali ia mengantarkan makanan, ia mengetuk dulu pintu rumah, masuk, dan menyimpan makanan dan minumannya di situ. Lalu setan berbisik lagi, bukankah berbuat baik itu harus ditunjukkan dengan sikap yang ramah? Sekali-kali ucapkanlah salam, tanyakan kabarnya, beri ia senyuman. Bukankah memberikan senyuman itu merupakan sedekah?. Betul juga pikirnya,

Setelah sang ahli ibadah itu melakukannya, setan berbisik lagi. “Kamu ini seorang Kyai, kenapa kamu tidak enanyakan kabar kepada puteri itu?Bukankah itu bagus? Dan akan lebih bagus lagi, jika kamu duduk-duduk sebentar dengannya, mengajarinya ilmu-ilmu agama”.

“Benar juga ya” guman sang ahli ibadah. Sesudah itu setan datang lagi.
“Wahai Kyai, apakah kamu tidak pernah berpikir? Bagaimana kalau ada orang lain melihat kamu berbincang berduaan dengan seorang perempuan bukan muhrim di luar rumah? Jelek sekali jik sampai dilihat orang lain. Nah, agar aman mengobrolah di dalam kamarnya biar tidak terjadi fitnah bagi orang lain.”.

“Iya bener juga ya, kenapa aku tidak melakukannya?” pikir sang ahli ibadah

Setelah ahli ibadah itu masuk ke dalam rumah, setan-pun masuk. Karena kecantikan dan kemolekan wajahnya, hati sang ahli ibadah itu guncang juga, hingga akhirnya sang ahli ibadah itu terjerumus dalam kemaksiatan. Ia zinahi puteri raja itu sekali. Tadinya ia menyesal, namun pada saat yang sama setan menyimpangkannya dan ia mengulangi lagi hingga berulang-ulang. Akhirnya sang puteri raja itu hamil.

Karena takut ketahuan orang lain kalau ia berzinah, sang ahli ibadah itu kebingungan, kemudian si setan menakut-nakuti sang ahli ibadah.
“Kyai, kamu akan celaka sekarang, kamu telah menghamili puteri Raja. Sebaiknya sekalian kamu bunuh saja dia. Lalu kuburkanlah dia baik-baik. Katakan saja kepada Raja, bahwa puterinya meninggal karena sakit. Habis perkara.”

Atas hasutan dan rayuan manis setan, maka sang puteri itu-pun ia bunuh. Pada saat bersamaan, setan datang memberitahu Raja bahwa puterinya telah dibunuh sang ahli ibadah. Akhirnya, sang ahli ibadah itu ditangkap dan dihukum. Ia disalib di alun-alun kota dan dipermalukan.

Dalam keadaan digantung, si setan datang lagi dan berkata kepadanya, “Aku akan membantumu asal kamu mau bersujud kepadaku”.
“Bagaimana aku bersujud kepadamu sementara aku disalib?”, kata sang ahli ibadah.
Setan menjawab,” Niatkan saja dalam hatimu, bahwa sekarang kamu bersujud kepada Iblis (ini memang dendam lama Iblis, karena ia dulu disuruh bersujud kepada Ayah para manusia, yaitu Adam as. Sekarang ia menyuruh anak Adam bersujud kepadanya).

Sang ahli ibadah itu-pun menurut, “Baiklah mulai sekarang aku bersujud kepadamu”.

Tapi kemudian setan berkata,” Sekarang aku berlepas diri darimu, sebab aku takut kepada Allah Rabbul Alamiin, sementara kamu tidak takut sama sekali akan azabnya”.

Kemudian, sang ahli ibadah itu mati di tiang salib dalam keadaan musyrik, melakukan pembunuhan dan perzinahan.

Sahabatku rahimakumullah,
Larangan berkhalwat (berduaan) dengan yang bukan muhrim tersebut berdasarkan hadist :
Rasulullah saw bersabda:“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad & Ibnu Hibban).

Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad).

Menurut Ibnu Abi Al-Dunya dari Ibnu Umar dalam Al Durr Al Mantsur, dikisahkan dialog Nabi Musa as dan Iblis, dimana dalam dialog yg cukup panjang terfsebut Iblis meminta agar menghindari berduaan dengan seorang perempuan yang bukan muhrim, karena saat itu Iblis akan datang merayu si laki-laki dan si perempuan agar terjadi perzinahan.

Jadi kalau kalau Anda berdua-duaan dengan seorang perempuan yang bukan muhrim, maka setan akan jadi penghubung Anda berdua dengan membisikan (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat Anda berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari Anda berdua serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah dihadapan Anda berdua, sampai akhirnya setan menyatukan Anda berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan Anda berdua pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan Anda berdua kepada perzinahan.”.

Sahabatku rahimakumullah,
Dalam kehidupan saat ini sehari-hari, sering kita karena tugas pekerjaan atau bisnis kita berduaan (berkhalwat) dengan lawan jenis. Bahkan kadang kita berduaan dengan rekan sekerja/sekantor yang bukan muhrim untuk tugas atau seminar di luar kota. Juga terkadang kala kita pulang kantor sendirian, ada rekan sekerja yang bukan muhrim minta nebeng di kendaraan kita. Berhati-hatilah dan selalu waspada bahwa setan pasti ada diantara Anda berdua . Carilah alternatif dan jalan keluar agar Anda tidk berdua, misalnya minta agar ada rekan yang lain juga ikut serta.

Boleh jadi Anda yakin bahwa iman Anda sudah kuat, tapi kisah di atas bisa jadi pelajaran, jangankan Anda, Sang ahli ibadah yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah, mengajar kepada murid-muridnya di Pesantren miliknya, shalat, zikir dan mensucikan dirinya saja bisa tergelincir dalam perzinahan.

Sadarilah bahwa jika Anda berduaan (berkhalwat) dengan yang bukan muhrim, meskipun Anda tidak berbicara, hati Anda dan perempuan itu akan dihbungkan oleh Setan, akan saling digetarkan dan dibuat saling suka satu sama lain. Di situ setan sebagai utusan yang setia, untuk menyampaikan seluruh informasi, termasuk getaran-getaran Anda berdua. Setan akan datang melalui syahwat. Ia akan membangkitkan syahwat Anda berdua sehingga terjatuh dalam kemaksiatan.

Demikian halnya yang dilakukan oleh Sang Ahli Ibadah dalam kisah di atas, dimana seorang ahli Ibada yang menjaga dirinya, bisa jatuh ke dalam kemusyrikan dan meninggal dalam keadaan suul khatimah dimulai hanya karena berkhalwat (berduaan) dan semua kejahatan itu bersumber dari syahwat. Setan datang melalui pintu syahwat itu, oleh karena itu, hati-hatilh terhadap syahwat. Karena setan bisa masuk ke dalam diri seseorang melalui lubang itu. Naudzubillah min dzalik.

Semoga kita semua dijauhkan Allah swt dari yang demikian.

Wallahualam bissawab

Satu respons untuk “Ahli Ibadah yang Su’ul Khatimah Karena Syahwat

  1. raden mas arjuno berkata:

    au’dzubillahiminasyaithonirojiim,
    aslmlkm wr, wb…,
    memang syaithon selalu menyesatkan manusia dari semua arah, jika tdk bisa melalui emosi, maka pintu syahwatlah yang akan digunakan.

Berikan Komentarmu ^_^ Hindari iklan terselubung yaa..