Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Main yang Tidak Main-Main

Anak kecil akan tetap menjadi seorang anak kecil..  Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita, sebagai orang dewasa, tiru dari anak kita sendiri.  Contohnya saja anak ku,  hari ini.  Saya mengajaknya berbelanja di hypermarket untuk membeli kotak penyimpanan mainan-mainannya yang sudah mulai overload.  Saya memang sedang niat membelikan dia mainan, satu atau dua. Akhirnya setelah berada di etalase mainan,  anak kecil ini yang memang hobi nonton video review mainan di youtube,  melirik sebuah mainan baby bath tub yang pernah dilihatnya di youtube, sambil teriak,  “Mamy…..  Baby…!!!! “.  Jadilah mainan itu terbeli dengan harga 49,900 sebelum dapat diskon 30%. Baca lebih lanjut

Pengalaman Travelling dengan Anak Kecil: Surabaya – Malang – Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 8 Agustus sampai 14 Agustus, keluarga kecil kami melakukan perjalanan ke 3 kota. Deg degan juga sih, soalnya selain pulang kampung, ini adalah perjalanan panjang pertama anakku, Qifaya, 2 tahun 5 bulan. Karena semuanya telah berlalu, saya mau share nih pengalamanku travelling serta budget yang dikeluarkan selama perjalanan kami. Gimana suka dukanya, gimana capeknya, gimana ribetnya. Tapi mungkin aku share nya bertahap dibagi menjadi beberapa postingan, biar postingannya gak kepanjangn :mrgreen: Baca lebih lanjut

Salahnya Siapa?

Saat anak terjatuh, pernahkah mendengarkan-atau mungkin kita lah pelaku utamanya, para orang tua malah menyalahkan benda-benda yang membuat si anak jatuh, entah itu batu, lantai, kursi atau paling parah kodok 😀 Ya… saya pernah mendengarnya, mirisnya dari ibu saya sendiri. Beliau melakukan demikian waktu anak saya berlari tidak melihat ke depan, akhirnya menabrak tembok. Jadilah si tembok yang disalahkan oleh ibu saya, waktu itu ibu saya memukul si tembok yang malang. Akhirnya, setiap kali anak saya jatuh, dia selalu saja menyalahkan apa yang membuatnya jatuh. Baca lebih lanjut