Apa Salah Dokter?

Sedikit Mempertanyakan Peran Pemerintah Terhadap Profesi Dokter. Saya bukanlah seorang dokter, sama sekali bukan.. Saya hanyalah ibu satu anak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pendidikan ku pun tak berkecimpung di dunia kesehatan. Saya hanyalah sarjana manajemen yang sekarang berusaha meraih ilmu magister untuk selanjutnya bisa mendidik anak-anak ku lebih baik lagi. Tapi saya ingin bercerita tentang pengalamanku sebagai seorang pasien BPJS Kesehatan.


Saya termasuk anggota BPJS Kesehatan yang sudah terdaftar hampir setahun, namun baru kali ini saya memanfaatkan kartu tersebut untuk keperluan mengganti lensa silinderku yang sudah mulai kabur. Setelah mendapat saran dari optik yang tak jauh dari rumahku, akhirnya saya mengunjungi dokter keluarga yang ditunjuk oleh pihak BPJS Kesehatan untuk menangani kesehatanku, dan disinilah awal mula pemikiranku tentang peran pemerintah terhadap profesi dokter.
Apotik tempat dokter tersebut praktek tidaklah begitu bagus, tidak jelek namun tidak juga bagus.

Disana terdapat satu orang bagian pendaftaran untuk menerima pasien. Sepanjang penglihatanku, disana hanya kedatangan pasien BPJS atau Askes, mungkin 4-5 orang. Saat tiba giliranku untuk bertemu dokter, saya melihat kondisi yang memprihatinkan. Baru kali ini saya menggunakan jasa kesehatan massal, sebelumnya kesehatanku ditanggung oleh kantor ayahku yang bekerja di Perusahaan BUMN atau menggunakan fasilitas umum dengan biaya sendiri. Otomatis pelayanan maksimal yang saya dapatkan dan membuatku berpikir dokter merupakan pekerjaan yang parlente dan pantas dikerjar banyak orang. Tapi melihat kondisi dokter BPJS Kesehatan yang menjadi dokterku, membuatku bertanya-tanya dan membuat hatiku miris. Oke, saya memang orang yang cepat merasa prihatin kepada orang lain, namun saya rasa ini pantas.

Dokter tersebut menggunakan jas dokternya yang saya perkirakan dijahit semasa SD ku, sekitar belasan tahun yang lalu. Lusuh dan menurutku sudah tidak layak digunakan. Belum lagi buku catatan yang si dokter gunakan, sampulnya sudah koyak. Saya lalu mengalihkan penglihatanku di sekeliling ruangan, hanya ada kipas angin tua yang mengarahkan anginnya ke si dokter yang bermata sayu. Si dokter yang berbicara dengan nada sendu membuatku merasa semakin bersalah menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Padahal saya hanya datang untuk meminta rekomendasi ke RS umum untuk mendapatkan lensa silinderku.

Keesokan harinya, saya datang lagi ke dokter tersebut untuk mendapatkan surat rekomendasi yang kemarin dia janjikan akan kudapatkan malam berikutnya. Saat saya turun dari motorku, saya melihat si dokter duduk di depan ruangan periksanya, tanpa menggunakan jas dokter, dengan wajah yang begitu menyedihkan. Saya semakin merasa bersalah padanya.
Saya menceritakan hal tersebut kepada kawanku yang baru saja mendapatkan gelar dokternya, dia mengatakan bahwa dokter BPJS diberikan upah 8rb rupiah per kunjungan pasien. Jleg! Saya merasa tambah bersalah..

Saya bertanya-tanya ada apa ini? kenapa profesi dokter yang notabene berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak bangsa dari berbagai penyakit malah diberi upah yang tidak layak?

Dokter yang oleh pemerintah diberikan tanggungan biaya kuliah yang begitu besar namun setelahnya mereka diperlakukan layaknya buruh bangunan!

Saya begitu sedih, saat banyak beredar berita tentang pihak RS yang tidak mau melayani pasien BPJS Kesehatan. Menurutku mungkin karena ini penyebabnya.

Dokter juga manusia, kawan! mereka punya kehidupan di belakang profesi mereka. Ada keluarga yang akan diberi nafkah. Ada utang (mungkin) yang harus dilunasi sebagai ganti biaya kuliah mereka dulu.
Dimana peran pemerintah? yang katanya akan menjamin kesehatan rakyatnya, namun miris tidak bisa menjamin mereka yang melayani kesehatan rakyatnya.

Tidak heran beberapa dokter memilih profesi lain untuk mendukung kebutuhan hidupnya dan rela melepas profesi dokternya. Kalau semua dokter berpikir demikian, mungkin pemerintah baru akan menaikkan bayaran untuk dokter. Sebagaimana di Jepang, pemerintahnya memberi bayaran tinggi untuk PNS karena kurangnya minat rakyat untuk menjadi PNS.
Semoga Allah menguatkan para dokter Indonesia.
Semoga Pemerintah cepat menyadari kondisi ini dan menindaklanjutinya.

2 thoughts on “Apa Salah Dokter?

  1. JNYnita berkata:

    Hehehe,, aku dokter gigi yg menangani bpjs lhooo… Fee dr & drg dr BPJS tergantung kebijakan kliniknya.. Klo klinik tsbt kapitasi pasiennya msh sedikit, ya fee dr & drg-nya jg sedikit,, Agak kompleks klo mau bahas adil atau tidaknya…

    • Fany berkata:

      oh gitu ya.. tp sy punya teman yg punya klinik, klo dia sih bagi hasil sm dokterx. 80:20. dokterx dpt 80. tp mmg sih klo sy liat prktekx dokter yg non bpjs mmg lbh parlente.. btw trm kasih komenx

Berikan Komentarmu ^_^ Hindari iklan terselubung yaa..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s