Pendidikan Untuk Nilai (?)

Ada seorang anak berusia 10 tahun yang pandai berjualan dan mendapatkan keuntungan dari hasil jualannya. Bahkan, anak tersebut mampu menyimpan keuntungan jualannya hingga belasan juta rupiah. Jika saya berbicara pada anak tersebut, atau mendengar cerita dari keluarganya, saya dapat melihat bahwa anak tersebut pandai mengelola keuangan bahkan saat berusia sangat muda. Sebuah anugerah indah dari Sang Pencipta. Saya sendiri, di usia sekarang masih belum sepenuhnya mahir mengelola keuangan pribadi.

Awalnya, dia mengumpulkan uang dari pemberian sanak keluarga, karena merasa uang tersebut akan habis jika dibelanjakan, maka anak tersebut memiliki inisiatif untuk menjual permen kepada teman sekelasnya. Berikutnya, keuntungannya dipakai lagi untuk menjual coklat, kartu, mainan dan apa saja yang menurutnya “laku dipasaran”, dari segi pandangannya pasaran berarti teman-teman sekolah dan sekompleks dia tinggal.

Saya kagum pada anak tersebut, dan berharap orang tua dan gurunya mendukung bakat alami anak itu, yaitu berniaga. Tapi setelah mendengar percakapan keluarganya, entah itu ibu, tante, guru dan orang tua lainnya, mereka bukannya mendukung penuh malah berkata, “kamu boleh berjualan asal nilaimu di sekolah bagus”.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sepenting itu nilai dalam kelas? Bukankah tujuan utama para orang tua menyekolahkan anaknya untuk bisa menghasilkan uang dikemudian hari? Lantas, kenapa saat si anak mampu menghasilkan uang lebih awal dari yang ditargetkan oleh orang tua, malah para orang tua berusaha menyampaikan seolah-olah nilai lebih penting daripada kemampuan menghasilkan uang?

Bagaimana jika anak tersebut membuang bakat berniaganya dan mengejar nilai tinggi dengan cara apapun agar menyenangkan hati para orang tua? Bagaimana jika si anak dalam proses meraih nilai tingginya itu menghalalkan segala cara termasuk menyontek atau bahkan menyuap pemberi nilai. Itu kah yang diharapkan para orang tua?

Sebuah pekerjaan rumah paling urgent buat para orang tua. Setiap anak dilahirkan membawa kecerdasannya masing-masing. Terkadang ada beberapa anak yang ditakdirkan membawa kecerdasan berjualan, apapun yang dia jual pasti laku. Lantas, jika anak tersebut dipaksa menjalani hidup untuk menjadi orang yang bekerja untuk orang lain, apakah akan optimal dia menjalaninya? Begitu juga sebaliknya.

Dear parents… semua pekerjaan itu baik loh.. hanya saja tidak semua anak cocok pada pekerjaan yang sama dengan anak lainnya. Ada yang cocok jadi penyair, ilmuan, pelukis, karyawan, profesional, atau pengusaha. Semua pekerjaan itu baik, tapi tolong, dear parents, anak itu bukan pelampiasan cita-cita kalian yang tidak tercapai. Mereka manusia baru yang juga memiliki keinginan dan potensi.

Berikan Komentarmu ^_^ Hindari iklan terselubung yaa..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s